1. KEMOLALAN
DAN FRAKSI MOL
a. Kemolalan
(m)
Kemolalan atau molalitas menyatakan jumlah mol (n) zat terlarut dalam
1 kg ( = 1.000 g) pelarut. Oleh karena itu, kemolalan dinyatakan dalam mol kg
-1.
m = n/p
m = kemolalan larutan
n = jumlah mol zat terlarut
p = massa pelarut (dalam kg)
Contoh :
Berapakah kemolalan larutan yang dibuat dengan mencampurkan 3 gram urea
dengan 200 gram air ?
Jawab : larutan 3 gram urea dalam 200 gram air.
Mol urea = 3 /60
g mol-1
= 0,05 mol
Massa pelarut = 200 gram = 0,2 kg
m = n/p =
0,05 mol
= 0,25 mol kg
-1
0,2 kg
b. Fraksi
mol (X)
Fraksi mol (x) menyatakan perbandingan jumlah mol zat terlarut atau pelarut
terhadap jumlah mol larutan. Jika jumlah mol zat pelarut adalah nA, dan jumlah
mol zat terlarut adalah nB, maka fraksi mol pelarut dan zat terlarut adalah :

Jumlah fraksi mol pelarut dengan zat terlarut adalah 1
X
A + X
B
= 1
Contoh :
Hitunglah fraksi mol urea dalam larutan urea 20% (Mr urea = 60 )
Jawab :
Dalam 100 gram larutan urea 20% terdapat 20 gram dan 80 gram air.
Mol air = 80 g/ 18 g mol
-1
= 4,44 mol
Mol urea = 20 g/ 60 g mol
-1 = 0,33 mol
X urea = X
B
=
0,33 mol / (4,44 + 0,33) mol
=
0,069
2.
SIFAT KOLIGATIF
Sifat koligatif adalah sifat-sifat
fisik larutan yang hanya bergantung pada konsentrasi partikel zat
terlarut, tetapi tidak pada jenisnya. Larutan elektrolit mempunyai sifat
koligatif yang lebih besar dari pada larutan non elektrolit
berkonsentrasi sama karena larutan elektrolit mempunyai jumlah partikel
terlarut yang lebih banyak.
a.
Tekanan Uap Larutan
Tekanan uap suatu zat adalah tekanan
yang ditimbulkan oleh uap jenuh zat itu. Semakin tinggi suhu, semakin besar
tekanan uap. Jika zat terlarut tidak menguap maka tekanan uap larutan
menjadi lebih rendah dari tekanan uap pelarutnya. Selisih antara uap pelarut
murni (P0) dengan tekanan uap larutan (P) disebut penurunan tekanan
uap larutan (ΔP).
ΔP = P0 – P
Menurut Roulth, jika zat terlarut
tidak menguap, maka penurunan tekanan uap larutan sebanding dengan fraksi mol
terlarut, sedangkan tekanan uap larutan sebanding dengan fraksi mol pelarut.
P = Xpel
x P0
ΔP = Xter x P0
Zat terlarut menurunkan tekanan uap
pelarut.
Contoh :
Tekanan uap air pada 1000C
adalah 760 mmHg. Berapakah tekanan uap larutan glukosa 18% pada 1000C
( Ar H = 1, C = 12, O = 16 )
Jawab :
Dalam 100 gram larutan glukosa 18%
terdapat :
Glukosa 18% = 18/100
x 100 gram = 18 g
Air = 100 – 18 g =
82 gram
Jumlah mol glukosa = 18 g/ 180 g mol-1
= 0,1 mol
Jumlah mol air = 82 g/ 18 gmol-1
= 4,55 mol
Xpel
= 4,55/(4,55 + 0,1)
P =
Xpel x P0 = (
4,55 x 760 mmHg) /(4,55 + 0,1)
= 743,66 mmHg
b.
bKenaikkan Titik Didih
Larutan mempunyai titik didih lebih
tinggi dan titik beku lebih rendah dari pada pelarutnya. Selisih antara titik
didih larutan dengan titik didih pelarut disebut kenaikkan titik didih (ΔTb).
Rumus : ΔTb = Kb x m
Dimana : m = molalitas
larutan
Kb = tetapan kenaikkan titik didih
Contoh :
Tentukan titik didih larutan yang
mengandung 18 g glukosa (Mr = 180) dalam 500 g air. Kb air = 0,520C/m.
Jawab :
Jumlah mol glukosa = 18 g/ 180 g mol-1
= 0,1 mol
Kemolalan larutan
= 0,1 mol / 0,5 kg = 0,2 mol kg-1
Titik didih , ΔTb
= Kb x m = 0,2 x 0,520C = 0,1040C
c.
Penurunan Titik Beku
Kenaikkan titik didih dan penurunan
titik beku sebanding dengan kemolalan larutan : ΔTb = m x
Kb dan ΔTf = m x
Kf . Selisih antara titik beku pelarut dengan titik beku larutan disebut
penurunan titik beku (ΔTf). Kenaikkan titik didih dan
penurunan titik beku larutan dapat dijelaskan dengan diagram fase.
Contoh soal :
Tentukan titik beku larutan yang
mengandung 18 g glukosa (Mr = 180) dalam 500 g air. Kf air = 1,860C/m.
Jawab :
Jumlah mol glukosa = 18 g/ 180 g mol-1
= 0,1 mol
Kemolalan larutan
= 0,1 mol / 0,5 kg = 0,2 mol kg-1
Titik didih , ΔTf
= Kb x m = 0,2 x 1,860C = 0,3720C
Diagram Fase (PT)
- Menyatakan batas – batas suhu dan tekanan
di mana suatu fase dapat stabil.
- Suatu cairan mendidih pada saat tekanan uap
jenuhnya sama dengan tekanan permukaan
- Oleh karena larutan mempunyai tekanan uap lebih rendah,
maka larutan mempunyai titik didih lebih tibggi daripada
pelarutnya.
d.
Tekanan Osmotik
- Osmosis adalah perembesan molekul pelarut dari
pelarut kedalam larutan, atau dari larutan lebih encer ke
larutan lebih pekat, melalui selaput semipermiable.
- Tekanan osmotic adalah tekanan yang harus
diberikan pada permukaan larutan untuk mencegah terjadinya
osmosis dari pelarut murni.
- Rumus : л = M . R .T
- Larutan – larutan yang mempunyai tekanan osmotic sama
disebut isotonic
Contoh soal ;
Berapakah tekanan osmotic larutan
sukrosa 0,0010 M pada 250C ?
Jawab
: л = M . R .T
=
0,0010 mol L-1 x 0,08205 L atm mol-1K-1 x 298
K
= 0,024 atm ( = 18 mmHg)